PAGEBLUK
Ramadhan, Pagebluk dan Kesendirianku
|
P |
uasa hari pertama, 24
April 2020. Itu adalah hari dimana seharusnya aku bisa pulang ke kampung
halamanku di Jawa. Hari itu, aku sudah membeli tiket pesawat terbang dengan
tujuan Berau-Yogyakarta Kulon Progo. Harapan besar bisa bersua dengan keluarga
dan menjalankan ibadah ramadhan bersama sampai hari raya.
Pandemi (dalam bahasa
Jawa disebut Pagebluk) membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan
penerbangan mulai tanggal 24 April 2020 pukul 00.00 WIB sampai 1 Juni 2020.
Akibatnya, penerbanganku hari itu dibatalkan dan aku hanya bisa berjalan
tertatih, menangis serta meratapi kegagalanku pulang kampung.
Sampai hari ketujuh
Ramadhan, aku terus-menerus bersedih dan tidak keluar kost bahkan aku sahur dan
berbuka seadanya dengan sisa bahan makanan yang ada didapur. Bagaimana tidak,
ini adalah tahun keduaku menjalani ramadhan diperantauan, dalam kesendirian,
tanpa suamiku, anak-anakku, orang tuaku dan sanak saudaraku. Rasanya begitu menyesakkan.
Hari-hari berikutnya, aku
berusaha untuk bangkit secara perlahan. Mencoba menahan tangis dan kepedihan.
Menyibukkan diri dengan hal yang kadang tak penting sembari terus berharap
pagebluk ini segera berakhir dan aku bisa kembali pulang serta menjalani
puasaku dengan penuh kegembiraan.
Namun kenyataannya,
semakin hari kondisi tidak membaik. Informasi tentang pertambahan pasien covid
19 di seluruh wilayah Indonesia membuat masyarakat semakin resah. Berbagai
tindakan pencegahan terus dilakukan oleh pemerintah termasuk berbagai kebijakan
yang tidak boleh dilakukan selama bulan ramadhan.
Berita tentang himbauan
dan larangan sholat berjamaah, larangan sholat tarawih di masjid, larangan
ngabuburit, larangan melaksanakan buka bersama dan larangan-larangan lainnya
memenuhi isi sosial media dan televisi.
Pagebluk telah membuat
Ramadhan kami seperti gemericik air yang tak mengalir, membuat masjid tampak
sepi dan tak bergema, membuat jalanan sepi bak hutan tanpa pepohonan, membuat
warung-warung makan tutup dan tanpa pembeli, membuat riuh anak-anak yang
menantikan takjil di masjid saat menunggu adzan maghrib tak lagi terdengar,
membuat kultum dan ceramah yang biasanya menghiasi tiap malam ramadhan kini
sunyi tak bergeming.
Tak ada lagi orang yang beramai-ramai
melakukan iktikaf dimasjid, tak ada lagi kidmad tadarus dimasjid, tak ada lagi
kataman Qur’an dimasjid, tak ada lagi peringatan Nuzulul Qur’an, tak ada lagi
sorai pesantren kilat anak-anak, tak ada lagi pemuda yang hiruk pikuk keliling
kampung membangunkan kami sahur dan tak ada lagi ramai orang berburu makanan
dipinggiran trotoar untuk menu berbuka mereka.
Ramadhan ini hanyalah
sebuah kesunyian layaknya aku yang terpaku dalam kesendirian. Mungkin pagebluk
ini membuat orang menjadi lebih memahami arti kebersamaan, persaudaraan dan
kerinduan. Sama halnya denganku, yang hanya bisa merindu dalam kesendirianku
selama ramadhan saat pagebluk ditanah rantau.
Sekarang menangispun
hanya menguras air mata. Cukup aku terjatuh dan kini saatnya untuk kembali
bersyukur dan terus berdoa. Ramadhan dan kesendirianku ditengah pagebluk memang
membuatku rapuh. Tapi sekali lagi, aku tak boleh kalah dan menyerah.
Hari-hariku berikutnya
kuhabiskan dengan mengikuti banyak webinar dan seminar online, menambah intensitas
video call bersama anak-anak, suami juga ibuku. Merekalah yang terus
menguatkanku dalam kesendirian ini. Mendengarkan celoteh mereka tentang
hari-hari yang mereka jalani dirumah selama ramadhan, mendengarkan mereka
belajar Qur’an dan merasakan kehadiran mereka ditengah kesendirianku saat ini,
kurasa itu cukup bagiku.
Ingatlah, bahwa segala
sesuatu pasti ada hikmahnya. Akan ada sesuatu yang indah untuk dituai nantinya.
Sabarlah, kuatlah dan tersenyumlah, selalu itu yang kukatakan dalam hatiku.
Ramadhanku tidak boleh
berlalu hanya dengan kesedihan, kesendirianku akan kusudahi dengan caraku dan
pagebluk biarlah tetap menjadi rahasia Tuhan! Mari berdamai ditengah pagebluk
demi ramadhan nan indah.


Benar, semua pasti ada hikmahnya bu susan, tetap semangat
BalasHapusterimakasih bu sri handayani..
Hapus