Ibuku Guruku Inspirator Kehidupanku
Guru, digugu lan ditiru. Ungkapan Jawa ini begitu melekat
dibenak saya karena sering sekali mendengarnya sejak masa sekolah hingga saat ini kita
mendewasa. Ungkapan tersebut mendorong sanubari kita untuk terus memberikan apresiasi dan ribuan
kata terima kasih yang tak terlukis bagi para Guru yang telah mendidik dan
membimbing kita dengan penuh makna dan memberikan jutaan arti mulai dari awal kita
masuk Taman Kanak-Kanan, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi bahkan Guru TPA kita
yang mungkin hanya kita temui satu minggu satu kali
Guru-guru kita begitu banyak meninggalkan jejak bagi kehidupan kita,
jejak ilmu, jejak pesan moral, jejak religius dan jutaan kenangan tak ternilai.
Ilmu dan pengorbanan yang mereka berikan tak pelak membuat kita selalu
terngiang akan keberadaan mereka. Bagi kita mungkin ada beberapa guru yang
menimbulkan kesan kurang mendalam, namun ada juga beberapa guru yang memberikan
kesan yang terbawa sampai usia kita menua.
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri
Handayani, ajaran kepemimpinan dari Ki Hajar Dewantara ini bagi saya begitu
mengkiaskan makna sosok seorang Guru didalamnya. Ajaran ini memiliki arti figur
seseorang yang baik yaitu disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi
juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang
agar orang-orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat.
Sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat. Guru memiliki seluruh
makna ungkapan tersebut.
Begitu banyak cerita dan kisah yang terekam dalam otak ini, sehingga tak
mampu untuk menuliskannya satu persatu dengan baik. Namun yang pasti sosok guru
yang sampai saat ini melekat dalam ingatan, memori dan hati sanubariku adalah Ibuku.
Ibuku juga Guruku, beliau adalah Ibu Marwanti, S.Pd. yang mengampu guru kelas
di SDN 01 Bejen, Karanganyar, Jawa Tengah. Beliau baru saja menikmati masa
pensiunnya per – 1 Desember 2020 lalu. Beliau mengabdi selama 34 tahun menjadi
seorang Guru SD. Beliau adalah sosok guru yang luar biasa dan tak ternilai bagi
saya, memang suatu kebetulan beliau adalah ibu saya sendiri, sehingga kesan ini
semakin memberikan arti yang tak terungkap dengan kalimat maupun mutiara.
Ibu Marwanti, S.Pd., terkenal memiliki vocal yang keras dan tegas, namun
disiplin dan berwibawa. Beliau sempat mendidik saya semasa Sekolah Dasar, meski
hanya sekali dalam 6 tahun, namun memberikan dampak yang luar biasa dikehidupan
saya hingga saat ini. Karena pelajaran-pelajaran yang beliau berikan bukan
hanya tertulis di papan tulis dan buku sekolah namun diteruskan sampai dibangku
rumah dan papan kehidupan. Dan ini bukan hanya saya rasakan, tetapi hamper
semua murid-murid yang telah beliau ampu selama ini.
Beliau selalu mengajarkan bukan hanya ilmu pengetahuan atau knowledge
yang bermanfaat, bukan hanya sekedar teori tapi
keterampilan atau life skill bagi murid-muridnya meski masih masa
usia dasar. Selain itu, beliau juga mengajarkan bagaimana hidup dengan
orang-orang disekitarnya atau how to Life together and how to be yourself atau
bagaimana menjadi diri sendiri. Beliau mengajarkan kami keutamaan
unggah-ungguh, tepo sliro, budi pekerti (norma kesopanan dalam masyarakat Jawa)
yang harus dipegang teguh saat kita bermasyarakat. Disamping itu kuatnya norma
agama dan norma kepantasan yang tidak tersirat dalam lembaran buku-buku
pelajaran juga beliau ajarkan untuk kami para muridnya. Norma kepantasan adalah
bagaimana selayaknya hidup dan berperilaku di masyakarat dan bersama orang
banyak.
Beliau mengajarkan bagaimana cara berbagi dengan orang lain melalui apa
yang kita miliki tanpa memandang siapa, apa, mengapa dan kenapa. Berikan apa
yang kita punya meski hanya sekedar sepercik senyuman, maka orang lain akan
ikut merasakan kebahagiaannya. Kata-kata itu terlintas kuat dibenak saya.
Seperti apapun kondisi kita dalam hidup, beliau mengarahkan kami untuk terus
berpegang teguh pada agama dan meng-imani bahwa hidup ini indah, akan ada
masanya dimana orang merasakan keindahan dan ada masanya orang merasakan berada
diroda terbawah. Beliau meninggalkan bekal tak ternilai untuk kami para
murid-muridnya, yang bisa kami jadikan tauladan hingga kami beruban dan tutup
usia.
Bagi kami murid perempuannya, ibu Marwanti, S.Pd. selalu menanamkan pada
diri kami nilai-nilai agar kami selalu menjaga kehormatan dan harga diri kami
sebagai seorang wanita. Tidak boleh mudah putus asa karena jalan Tuhan itu akan
indah pada waktunya. Bersinergi dengan kehidupan yang beraneka ragam dengan
tetap menjaga harkat dan martabat seorang wanita. Berkolaborasi dengan
perkembangan zaman namun tetap menjunjung tinggi moral dan harga diri sebagai
seorang wanita. Harus terus berkembang, meningkat, melejit dan membumi namun
tetap menjaga kehormatan diri ditengah kerasnya kehidupan yang kadang tak
terbaca. Begitulah kesan yang tersirat dihati kami dari apa yang telah beliau sampaikan,
contohkan dan berikan kepada kami murid-muridnya kala itu.
Beliau ibu Marwanti, S.Pd. adalah sosok yang bagi saya cukup patut
disandingkan dengan kalimat kepemimpinan yang disampaikan Ki Hajar Dewantara.
Beliau memberikan teladan yang nyata, menularkan banyak hal yang tak tertulis
dalam lembaran kertas putih, menjadi penengah disegala situasi, memberikan
dorongan dan semangat bagi kami untuk terus semangat menjalani kehidupan namun
tetap rendah hati dan jangan rendah diri, berpegang teguh pada agama, jujur dan sederhana. Itulah
beliau ibu Marwanti, S.Pd. Guru SD-ku, Ibuku dan Inspirator kehidupanku. See
How Much I Love You (SHMILY) kata beliau untuk kami, anak-anak dan juga
murid-murid kesayangannya.
Susanti Handayaningsih, S.H. putri dari sosok Ibu, pensiunan
guru SD, Ibu Marwanti, S.Pd. dan juga guru MTSN Berau, Kalimantan Timur.


Komentar
Posting Komentar